Jumat, 09 Maret 2012

KEMAMPUAN GURU DI BANDINGKAN MURIDNYA TENTANG TEKNOLOGI

Kita hidup kini di era globalisasi. Di era ini kita hidup penuh dengan tantangan sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi komunikasi. Apalagi guru sebagai orang sehari- hari mendidik dan mengajar mentransfer ilmu kepada anak didik,mestinya bisa mengetahui dan menguasai kemajuan teknologi komunikasi yang ada. Guru harus mampu dan terus menerus mampu menganalisa informasi dengan menggunakan berbagai macam teknologi. Teknologi dapat menolong guru untuk menyiapkan diri mencapai sukses dalam lingkungan yang sangat kompetitif ini. 
Para guru yang berdedikasi membina potensi inovasi anak-anak muda, menyiapkan mereka untuk memasuki dunia dimana sebuah pemahaman mengenai teknologi dapat membantu keberhasilan mereka.
Sayangnya, bila kita melihat kenyataan yang ada di dalam dunia pendidikan kita, masih sangat banyak guru yang miskin pengetahuan tentang teknologi, terutama teknologi pembelajaran. Ketika mereka kurang faham tentang teknologi, tentu berpengaruh besar pada penguasaan ketrampilan menggunakan teknologi tersebut. Kenyataan lain saat ini, para siswa dan guru sangat membutuhkan ketrampilan untuk menggunakan teknologi informasi dan teknologi pembelajaran yang membantu mereka mempermudah sistem pembelajaran. Dengan adanya kemampuan menggunakan teknologi maka, hal yang rumit dapat dipermudah. Tetapi, alangkah memprihatikan guru-guru kita sekarang masih kaget dengan teknologi. Maka masih banyak sekali diantara guru-guru kita yang belum mampu mengoperasikan komputer.
Betapa ironisnya saat ini, para siswa lebih pandai menggunakan komputer dan internet dari pada seorang guruDisini nampak jelas, bahwa kondisi penguasaan guru terhadap teknologi masih sangat rendah dan memprihatinkan. Ternyata, hingga kini masih sangat banyak guru yang gagap teknologi.

PENTINGNYA GURU MENGUASAI TEKNOLOGI DI DUNIA PENDIDIKAN



Perkembangan teknologi dewasa ini mengalami peningkatan yang sangat pesat, hal ini adalah hal yang mau tidak mau harus diikuti, jika perlu harus di akselerasi lebih cepat lagi agar generasi kita tidak menjadi generasi plagiator atau generasi konsumtif. Kita harus melepaskan diri sebagai objek/target negara-negara yang lebih dulu menguasai teknologi. Perkembangan teknologi yang ada disekitar kita merupakan senjata bagi negara lain untuk menyerang generasi kita agar lumpuh dan tumpul dalam berbagai aspek, sehingga kita dapat dipastikan menjadi negara bulan-bulanan target kemajuan teknologi tanpa mampu mengimbangi, jangankan menciptakan, mengimbangi atau mengikuti saja sudah tidak mampu. Perkembangan teknologi yang diterima generasi saat ini mampu menciptakan ledakan informasi yang sangat hebat. Jika kita tengok ke kebelakang sekitar tahun 80-an, kecepatan pertumbuhan pengetahuan berjalan 13% persen per tahun, hal ini berarti bahwa pengetahuan yang akan berkembang menjadi 2 kali lipat hanya dalam jangka waktu 5,5 tahun. Ini berakibat pengetahuan dalam bidang tertentu menjadi "kadaluarsa" hanya dalam waktu kurang lebih 2,5 tahun. (Dikutip dari Miguel Ma.Vareka, Education for Tomorrow, APEID, Unesco PROAP, Bangkok, 1990, oleh Santoso S. Hamidjojo).
Akselerasi teknologi juga berlaku didunia pendidikan. Kita bisa memperhatikan teknik-teknik inovasi pembelajaran yang ada di dunia pendidikan Indonesia dewasa ini, hal ini merupakan salah satu geliat pertumbuhan pengetahuan yang terjadi di dunia pendidikan. Guru dituntut untuk menjadi terdepan dalam penguasaan teknologi sebagai salah wujud akselerasi pengetahuan yang mutlak harus di transfer kepada generasi penerus. Hal ini untuk menghindari terjadi gap yang telalu lebar antara penguasaan pengetahun guru dengan penguasaan pengetahuan anak didiknya. Guru yang pada awalnya sebagai sumber, sekarang bergeser essensi-nya menjadi seorang fasilitator yang harus mampu menjembatani antara perkembangan pengetahuan dan teknologi dengan anak didiknya. Hal ini harus memicu para guru agar mau dan mampu berkompetisi dalam alur perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus menerus maju. Jika perlu, guru dipaksa belajar dan terus belajar agar mereka tidak tertinggal dari ilmu pengetahuan dan informasi yang berkembang pada lingkungan anak didiknya. Sungguh hal yang tidak lucu jika ternyata ada anak didik yang menjadi malas belajar karena pengetahuan dan teknologi yang dikuasai gurunya di nilai telah kadaluarsa oleh anak didiknya atau orang tua anak didik. Hal ini bukan hanya mengganggu proses belajar mengajar dikelas tapi menunjukan kemunduran dalam perkembangan pendidikan yang ada dilingkungan tersebut, dimana ternyata lingkungan masyarakat lebih maju dari pada lingkungan pendidikan dalam hal pengetahuan teknologi dan informasi.
Hal yang urgen untuk dilakukan mulai sekarang adalah meningkatkan kualitas guru, pendidik dan tenaga kependidikan untuk bisa mengimbangi perkembangan teknologi dan informasi, agar tujuan mulia pendidikan dapat tercapai dalam waktu yang cukup singkat. Kenapa harus menunggu hari esok jika ternyata apa yang ada dalam lingkungan disekitar sudah tersedia? Tersedia disini bukan dalam arti lengkap atau mencukupi kebutuhan pembelajaran, tapi menunjuk kearah pemanfaatan secara maksimal segala resource yang sebenarnya sudah tersedia walaupun mungkin belum kita sadari sepenuhnya.
Dibawah ini mungkin secuil kendala baik oleh guru atau siapapun yang terlibat dalam mengelola pendidikan:

  • Waktu, orang yang terlibat dalam dunia pendidikan seakan selalu mengkambing hitamkan waktu yang katanya sangat sedikit untuk dapat mentransfer ilmu sebaik mungkin. Padahal waktu itu tersedia banyak untuk melakukan berbagi inovasi pendidikan dan pembelajaran.
  • Media pembelajaran, hal ini juga yang selalu menjadi alasan seorang guru untuk melakukan transfer ilmu dengan baik. Padahal jika kita telisik banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mentransfer ilmu kepada anak didik tanpa harus selalu menggunakan media pembelajaran yang seharusnya. Pertanyaan kecil, kenapa orang dulu mampu menerima dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari bangku sekolah dengan baik? Pemanfaatan yang tidak maksimal berbagai resource yang tersedia adalah salah satu bentuk kurangnya kompetensi guru dalam meramu suatu metode pembelajaran yang baik.
  • Kebijakan, hal ini yang kemudian muncul menghiasi nuansa pendidikan Indonesia, lembaga yang berkewenangan mengelola pendidikan justru terlena dalam berbagai argumen-argumen berbau kebijakan sepihak. Seakan mereka ingin menunjukan wajah pendidikan Indonesia dengan kebijakan yang dibuat sebagai suatu patokan utama yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun, dan mereka ingin menunjukan bahwa ini adalah kebijakan yang bisa mengeluarkan Indonesia dari krisis pendidikan yang berkepanjangan. Tapi sayang, kemudian kebijakan itu membelit para pelaksana pendidikan yang ada dilapangan, sehingga ide-ide brilian yang harusnya menjadi pemicu inovasi pendidikan menjadi mandek. Kepentingan-kepentingan yang datang dari sumber yang tidak ada hubungannya dengan pendidikan justru menjadi hal yang harus dibuat kebijakan oleh lembaga-lembaga yang berwenang dalam mengeluarkan kebijakan. Pendidikan dalam arti sebenarnya tersisihkan oleh kepentingan tersebut, bukannya berkembang tapi justru pendidikan Indonesia dikebiri tanpa daya.